DNA-2 ‘06 FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Kini Tiba Giliranku

GILIRANKU

Saat kakiku melangkah ke atas timbangan, ruang praktik yang mungil itu terasa semakin menyesakkan. Detik-detik berjalan bagaikan siput. Lalu angka-angka digital muncul: 106. Tapi aku belum dibiarkan turun. Beberapa saat kemudian, keluar lagi angka lain: 42.

“Nak, beratmu 106 kg dan kadar lemak dalam tubuhmu 42%”, ujar si dokter spesialis gizi. Meski tinggiku 1.70 m, tetap saja bobotku melanggar batas merah obesitas. Wanita baik itu segera mengeluarkan secarik kertas lalu mencoretkan segala pengetahuan gizinya. Sangat professional. Sangat rasional. Tapi sangat “tak masuk akal”.

Mana mungkin aku hanya makan satu centong nasi, dengan lauk separuh paha ayam? Ketika dokter bertanya “Kamu suka sayur?” aku menggeleng lemah. Sejak kecil aku tak sudi makan sayur. Ketika ia bertanya lagi “Tapi kamu suka buah?” aku menyahut lemah “Hanya apel”. Meski kutahu, papaya lebih sesuai dengan kondisi keuangan kami.

Deretan huruf dan angka yang ditulisnya menari-nari seperti ronggeng genit. Suaranya mendengung menjauh……

Ke mana kau, Ibu?? Bersamamu aku tak pernah menderita. Ibu tak pernah menolak apa yang kuminta. Tak pernah memaksa. Aku bebas makan yang aku mau. Aku bebas melakukan atau tidak melakukan apa pun.

Subuh-subuh beliau sudah bangun. Mencuci pakaian, berbelanja, memasak, menyetrika baju. Kami tak punya dana lebih untuk pembantu. Lagipula, untuk apa… sudah ada Ibu. Sampai malam pun, Ibu berjaga, mengerjakan ini dan itu. Tidak ada Ibu yang lebih hebat daripada Ibu.

Sampai beliau terserang stroke dan meninggal tahun lalu. Lalu Ayah terkena serangan jantung. Ayah masih jadi penopang keluarga sampai kini. Suara lembut dokter gizi terdengar lagi “… saya rasa pola makan keluargamu harus diperbaiki, kalau kamu dan ayahmu ingin tetap sehat. Kamu juga harus lebih banyak beraktivitas.”

Bagaimana harus memulainya? Aduh … Ibu. Kupegangi kepala dengan kedua tangan. Saat kuangkat wajah, kulihat Ayah. Mendadak untuk pertama kalinya aku melihat kelelahan di wajah tua renta itu. Kudengar suaranya yang kini melemah. Kulihat langkah kakinya yang kian perlahan setelah 70 tahun menapaki hidup. Dengan malu, kutundukkan kepala. Jangan khawatir Ayah, kini giliranku mengurusmu. Sesuatu yang seharusnya telah kulakukan sejak bertahun-tahun lalu, yang tak sempat kulakukan terhadap Ibu…

[Adapted from Intisari No.541, August 2008]

Bagaimanakah sikap kita selama ini sebagai seorang anak terhadap orang tua???

2 Tanggapan ke "Kini Tiba Giliranku"

hiks…
hiks…

presiden terharu…!!!

teman2 A2 yang tercinta, ambilah makna dari cerita di atas, mari berjuang untuk menjadi anak yang lebih baik lagi bagi orang tua kita. tunjukan pada mereka kalau kita bisa. semanagat..!!!

Oce dit… qt mua hrz bs belajar dr cerita di atz & berusaha mbwt ortu qt bangga slama mereka msh ada…
amien… amien… ya robbal alamin…

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

a

tAnggAl PirA kIye???

November 2009
M S S R K J S
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

DaYoHe dna206fabiounsoed

  • 3,552

yAng lAgI LiAt2,,

page counter pasang mata